Revolusi Hijau Di Indonesia

0 comments
Revolusi hijau di usulkan oleh William S. Gaud, seorang staf USAID yang sebenarnya digunakan untuk menyambut keberhasilan pemuliaan bibit varietas unggul padi dan gandum.
Di Indonesia program revolusi hijau dilakukan tahun 1968 pada bidang pertanian, yang dilaksanakan seiring dengan Repelita dengan prioritas pertanian. Dengan tujuan mencukupi kebutuhan pangan pangan rakyat Indonesia serta dengan keinginan swasembada beras pada tahun 1974 (Rahardjo, 1984)

•Menurut data, tingkat konsumsi beras di Indonesia mencapai 90% (Roegrant, 1987)
•Revolusi Hijau di Indonesia di picu oleh tiga hal, yaitu :
├śMunculnya revolusi biologi dengan bibit unggulnya
├śRevolusi Kimia melalui banjirnya produk CIBA
├śNiat pemerintah Orde Baru untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat

•Revolusi hijau di Indonesia telah dirintis di pulau jawa pada tahun 1963/1964 dengan program penyuluhan oleh ITB, ketika pemerintahan Orde Lama mulai merasakan kelangkaan beras

•Pemerintah melakukan program BIMAS untuk mewujudkan swasembada pangan khususnya beras. Kemudian pada tahun 1974 pemerintah menggagas program INMAS yang sebenarnya satu ruh dengan BIMAS, namun dilengkapi dengan program penanggulangan hama dan penyakit tanaman.

•Namun ada beberapa kendala yang dihadapi oleh karena adanya program revolusi hijau.

Akibat dari Revolusi Hijau




•Revolusi hijau sangat berpengaruh terhadap perkembangan pangan manusia, namun memiliki berbagai kemungkinan yang bisa membawa keuntungan maupun kerugian
•Pada peristiwa diatas dapat dikatakan bahwa Revolusi Hijau lebih banyak mendatangkan kerugia daripada keuntungan dilihat dari hasil untuk jangka panjangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan kritik dan sarannya pada kolom komentar di bawah ini. Gunakanlah kalimat yang baik dan sopan untuk toleransi bersama. Terimakasih.